Amar Bank Percepat Pembiayaan Digital untuk UMKM di Tengah Akses Kredit Timpang

Jakarta – Dalam upaya memperkuat ketahanan ekonomi digital Indonesia, PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) menetapkan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai prioritas utama. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari upaya bank untuk mengoptimalkan peran perbankan digital di tengah proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.
Pentingnya Pembiayaan Digital untuk UMKM
Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, menekankan bahwa pendekatan yang diambil oleh bank ini merupakan kunci untuk membuka potensi besar yang dimiliki oleh UMKM, yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Vishal menegaskan bahwa sebagai pelaku pembiayaan digital, mereka berkomitmen untuk mempermudah akses bagi pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha mereka.
“Dengan solusi keuangan digital yang mudah diakses dan terpercaya, kami berupaya menghadirkan peluang yang lebih luas bagi UMKM untuk tumbuh lebih produktif dan kompetitif. Ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk membangkitkan potensi besar UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional,” ujar Vishal.
Statistik UMKM di Indonesia
Menurut data terbaru dari Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64,2 juta unit, berkontribusi sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap hampir 97% tenaga kerja nasional. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah akses terhadap pembiayaan yang masih sangat terbatas.
Target pemerintah untuk meningkatkan porsi kredit UMKM hingga 30% dari total kredit perbankan belum tercapai. Diperkirakan, realisasi porsi tersebut pada tahun 2025 masih akan berada di kisaran 19,4%.
Peran Krusial Perbankan Digital
Dalam konteks ini, perbankan digital memiliki peranan yang sangat penting untuk menjembatani kesenjangan akses pembiayaan bagi UMKM. Vishal berpendapat bahwa digitalisasi mempermudah proses, mempercepat akses pembiayaan, dan menawarkan sistem yang lebih aman, sehingga dapat mendorong inklusi keuangan yang lebih luas.
Sejalan dengan pandangan Vishal, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, juga menyoroti bahwa keterbatasan akses pembiayaan masih menjadi tantangan utama bagi pelaku UMKM di Indonesia.
Tantangan Pelaku UMKM
Dalam diskusi bertajuk Digital Banking & Economic Outlook 2026: Awakening Indonesia’s Sleeping Giant, Nailul menjelaskan bahwa banyak pelaku usaha kecil yang masih bergantung pada modal pribadi atau pinjaman dari keluarga akibat hambatan administratif dan tingginya biaya untuk mengakses layanan perbankan.
“Dalam konteks ini, kehadiran bank digital dan skema pembiayaan berbasis kemampuan (ability-based financing) menjadi peluang untuk memperluas akses keuangan, terutama di daerah yang masih bergantung pada pinjaman informal,” kata Nailul.
Potensi Ekonomi Digital di Indonesia
Di tengah tantangan yang ada, ekonomi digital Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Nailul mencatat bahwa nilai transaksi pembayaran digital diperkirakan akan mencapai Rp4.000 triliun pada tahun 2026.
Angka tersebut didorong oleh meningkatnya penggunaan internet dan perangkat mobile, serta pertumbuhan pesat QRIS baik dari sisi pengguna maupun merchant.
Tantangan Keamanan Data
Meskipun ada pertumbuhan yang positif, Nailul mengingatkan bahwa isu keamanan data dan keterbatasan talenta digital masih menjadi tantangan utama yang harus dihadapi.
“Ke depan, penguatan literasi, inklusi keuangan, dan inovasi digital merupakan kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tambah Nailul.
Strategi Pembiayaan Digital oleh Amar Bank
Senior Vice President of MSME Amar Bank, Josua Sloane Solagracia, menegaskan komitmen perusahaan dalam menyediakan solusi yang tepat guna untuk membantu pelaku UMKM mengatasi hambatan akses ke layanan keuangan formal. Josua menyatakan bahwa fokus mereka adalah untuk meningkatkan kesiapan usaha dan tata kelola bisnis yang lebih baik.
Melalui layanan Amar Bank Bisnis, pelaku UMKM didorong untuk membangun sistem administrasi dan pengelolaan keuangan yang lebih rapi, sistematis, dan terdokumentasi.
Manfaat Layanan Amar Bank Bisnis
Beberapa manfaat dari layanan ini antara lain:
- Meningkatkan efisiensi operasional sehari-hari.
- Memperkuat fondasi usaha dalam jangka panjang.
- Memberikan rekam jejak keuangan yang lebih tertata.
- Meningkatkan peluang untuk mendapatkan akses terhadap pembiayaan formal.
- Mendorong pertumbuhan usaha yang lebih berkelanjutan.
“Dengan rekam jejak keuangan yang lebih terstruktur, UMKM akan memiliki peluang lebih besar untuk dinilai layak secara objektif oleh lembaga keuangan, sehingga akses terhadap pembiayaan formal menjadi semakin terbuka,” ujar Josua.
Inovasi Teknologi dalam Perbankan
Dari sisi teknologi dan operasional, Direktur Teknologi Informasi dan Operasional Amar Bank, Kevin Kane, mengungkapkan bahwa perusahaan akan terus memperkuat inovasi, termasuk dengan memanfaatkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Langkah ini diambil untuk meningkatkan efisiensi dan ketepatan dalam proses perbankan secara keseluruhan.
“Di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat, kami terus mengembangkan infrastruktur dan mengeksplorasi inovasi baru untuk mendorong produktivitas dan efisiensi. Melalui otomatisasi, proses underwriting secara real-time, serta analisis perilaku nasabah, kami dapat menghadirkan pengambilan keputusan yang lebih cepat, akurat, dan aman,” kata Kevin.
Dengan langkah-langkah ini, Amar Bank tidak hanya berupaya untuk memberikan akses pembiayaan digital yang lebih baik bagi UMKM, tetapi juga berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang berkelanjutan. Inovasi dan digitalisasi menjadi kunci dalam mengatasi tantangan yang dihadapi oleh UMKM serta memperkuat posisi mereka dalam perekonomian nasional.




