
Dalam upaya meningkatkan akses layanan kesehatan dan memutus rantai penularan HIV, Dinas Kesehatan Kabupaten Berau mengambil langkah strategis dengan memperluas skrining HIV hingga ke tingkat puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa masyarakat yang memerlukan pemeriksaan dapat segera terdeteksi dan mendapatkan pendampingan medis sejak dini, sehingga memperkecil risiko penularan lebih lanjut.
Peningkatan Jumlah Skrining HIV di Berau
Memasuki tahun 2026, Dinas Kesehatan Berau mencatat penemuan 34 kasus baru HIV. Peningkatan jumlah tes yang dilakukan oleh masyarakat menunjukkan adanya kesadaran yang lebih tinggi tentang pentingnya mengetahui status kesehatan mereka. Hal ini merupakan sinyal positif yang menunjukkan bahwa upaya sosialisasi dan edukasi mengenai HIV mulai membuahkan hasil.
Pentingnya Skrining HIV
Kepala Dinas Kesehatan Berau, Lamlay Sarie, menekankan bahwa pemeriksaan HIV merupakan bagian integral dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan yang harus dijamin aksesibilitasnya bagi seluruh warga. Dalam hal ini, akses mudah terhadap skrining HIV menjadi prioritas utama untuk mendukung deteksi dini dan penanganan yang tepat.
“Pemeriksaan HIV adalah salah satu indikator dalam SPM kesehatan. Oleh karena itu, kami berupaya untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan layanan pemeriksaan,” ungkap Lamlay dengan penuh keyakinan.
Strategi Proaktif dalam Skrining HIV
Alih-alih hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, petugas kesehatan di Kabupaten Berau turun langsung ke lapangan. Mereka melakukan pendekatan aktif dengan menyasar kelompok yang berisiko tinggi serta lokasi-lokasi yang rentan terhadap penularan HIV.
Langkah proaktif ini terlihat dari lonjakan jumlah pemeriksaan HIV dari tahun ke tahun. Pada 2024, tercatat 5.761 orang menjalani tes, yang meningkat pesat menjadi 7.257 pemeriksaan pada tahun 2025. Pada tahun 2026, meski baru berjalan setengah tahun, sudah ada sekitar 3.136 pemeriksaan yang dilaporkan.
Pemahaman Masyarakat tentang Skrining
Lamlay menjelaskan bahwa peningkatan jumlah tes bukanlah indikasi bahwa kualitas kesehatan masyarakat menurun. Sebaliknya, hal ini adalah tanda keberhasilan dalam memperluas jangkauan deteksi dini. “Jika jumlah orang yang melakukan tes meningkat, itu adalah hal yang positif. Yang perlu kita fokuskan adalah menurunkan jumlah kasus baru, bukan sekadar jumlah pemeriksaan,” jelasnya dengan tegas.
Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak
Skrining HIV kini diperketat tidak hanya bagi populasi berisiko, tetapi juga untuk calon pengantin. Tujuannya adalah untuk membentengi rumah tangga baru dari potensi penularan. Langkah ini menjadi kunci untuk mencegah penularan dari ibu hamil kepada bayi. Saat ini, tercatat ada tujuh ibu hamil yang terdeteksi positif HIV.
“Ibu hamil yang terdeteksi HIV memiliki risiko penularan kepada bayi mereka. Oleh karena itu, setelah bayi lahir, mereka akan tetap menjalani pemeriksaan dan pemantauan lebih lanjut untuk memastikan kesehatan mereka,” ungkap Lamlay.
Akses Pengobatan yang Gratis
Pemerintah Kabupaten Berau memastikan bahwa seluruh akses pengobatan dan obat-obatan bagi penderita HIV dapat diperoleh secara gratis di fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk. Masyarakat diimbau untuk menyingkirkan rasa takut dan stigma negatif yang mungkin mereka miliki, demi kesehatan bersama dan penerapan pola hidup yang sehat dan aman.
- Perluasan layanan skrining HIV di puskesmas.
- Peningkatan jumlah tes sebagai indikator kesadaran kesehatan.
- Deteksi dini untuk mengurangi risiko penularan.
- Pemeriksaan untuk calon pengantin sebagai langkah pencegahan.
- Akses pengobatan gratis untuk penderita HIV.
Dengan inisiatif ini, Dinas Kesehatan Berau berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan kesehatan dan memberikan dukungan kepada masyarakat dalam menghadapi isu HIV. Melalui pendidikan, sosialisasi, dan akses yang lebih baik, diharapkan angka penularan HIV dapat ditekan, dan masyarakat dapat hidup sehat dan produktif.

